(Tulisan ini aku bisa lancar
tuliskan setelah aku menonton ulang Film You Are The Apple of My Eye. Aku bakal
sedikit inget-inget beberapa scene di akhir tulisan ini)
Mencintai seseorang memang tidak semua sampai pada tahap ‘memiliki’. Ada yang jatuh cinta langsung sadar bahwa dia tidak bisa dimiliki karena ia sudah dimiliki orang lain. Ada yang jatuh cinta dan sempat memiliki (aka pacaran) tapi kemudian terpisah di tengah jalan: tidak sampai pada persatuan akad. Tentu ada pula cinta yang berhasil memiliki dan dimiliki sampai maut yang memisahkan. Macam-macam hal itu ada semua di dunia. Jadi, itu wajar? Ya, iya. Kita bisa menamakannya sebagai takdir cinta.
Yang pasti, menurutku: Tidak ada ‘jatuh cinta’ yang salah.
Ingat, aku hanya tidak menyalahkan
pada ‘jatuh cinta’nya. Masalah bagaimana ia mengekspresikan jatuh cintanya itu
yang mungkin bisa terselip sebuah kesalahan. Paham ya sekali lagi, menurutku
‘jatuh cinta’ tidak pernah salah. Ia diproduksi oleh hati kita sendiri, yang
bahkan cara kerjanya pun tak kita pahami.
Tapi satu yang aku yakini, hati kita tak bisa berbohong pada pemiliknya
sendiri. Ia bekerja sesuai perasaan yang masuk dan mungkin ditambah sedikit
pikiran dari otak yang kemudian diramu sedemikian rupa menjadi sebuah ‘cinta’.
Aku tak tahu apakah ilmu psikologi
bisa menjelaskan ini atau bahkan bisa mengiyakan keyakinanku ini atau tidak.
Karena aku pribadi belum pernah mendapatkan bacaan bagaimana cinta bisa
terbentuk, atau bagaimana cara kerja hati, dan lainnya.
Kembali ke awal, tidak semua
perasaan cinta akan sampai pada tujuannya. Tidak semua akan bisa memilikinya.
Kita pasti seringkali mendengar dari novel atau film dan lainnya: cinta tidak harus memiliki. Ya, setuju.
Aku tahu, pasti sesak ketika tahu seseorang yang kita suka berakhir bukan
dengan kita. Sangat sesak. Apalagi kita melihatnya sendiri di satu tanggal
dalam satu masa di mana akad itu diucap. Akad pernikahannya dengan orang lain.
Akad sebagai tanda ia bukan milik kita. Maka? Lepaskan.
Mau selama apapun kita pernah menjalin asmara dengannya.. Mau seromantis apapun kenangan kita di satu masa dengannya.. Mau se-effort apapun kita untuk mendapatkannya.. Mau sesedih apapun kita bercerita tentang hubungan kita yang lalu.. Kalau memang ia sudah nyata tidak bisa dimiliki lagi.. Maka satu-satunya jalan adalah: lepaskan. Berat aku tahu. Sangat. Tapi akan lebih berat lagi bila kamu terus menyangkal dan mencoba dengan segala cara untuk mendamba datangnya.
"Selamat belajar untuk melepaskan."
Jangan takut untuk kembali jatuh cinta.
Karena jatuh cinta tak pernah salah. Ia dicipta oleh hati kita sendiri.
Senangnya akan kita rasa sendiri. Sakitnya pun juga.
Bagi
kamu yang sudah bisa melepaskan, semoga ada cinta yang bersemi kembali.
Yakinlah, cinta yang selanjutnya akan lebih indah dari yang lalu. Dari yang
kamu lepaskan.
**Part di film ini yang paling aku
inget adalah bagaimana cara si cowonya menemani si cewek sejak masa di kelas,
sampai ketika mereka udah LDR pas kuliah. Pas si cowok beneran ngegundulin
kepalanya dan si cewek beneran nguncir rambutnya setelah mereka melakukan
semacam taruhan untuk nilai mapel. Kalau aku jadi cewenya, beuh, kenangannya
bakal semanis itu pasti di ingatan, wkwk. Terus rasa nyesek yang masih nyisa
gara-gara adegan nerbangin lampion di mana sebenernya si cewek menerima
cintanya si cowok, tapi si cowok malah menolak untuk mengerti. Sampai akhirnya
bener-bener nggak tahu kalau si cewek juga sebenernya suka sama dia. Ah nyesek
broo! Satu lagi deh: cinta itu tak bisa ditebak awal datangnya darimana, apakah
dari ketampanannya? Atau kecerdasannya? Atau dari perlakuannya pada kita
seperti tokoh Ko Teng (si cowok) ke Shen Chia Yi (si cewek) di film ini? Haha,
sekian.
Ga nulis lagi?
BalasHapus